Oke. So what's the fuss all about?
Jadi begini. Tahu kan Babakan Siliwangi? Yap. Yang itu. Bagi mereka yang belum tahu, well, marak berkembang dewasa ini (tsaah..) bahwa di area tersebut akan dibangun satu pusat perbelanjaan (lagi!). Awalnya proyek ini berjalan tanpa sepengetahuan masyarakat awam, tetapi toh isu ini sudah lama terdengar di kalangan akademisi. Akhirnya perlahan-lahan isu itu mulai muncul ke permukaan dan menggelitik telinga publik. Banyak yang berbicara vokal, tetapi banyak juga yang tidak peduli.

Pihak akademis, dalam konteks ini saya berbicara atas nama teman-teman dari ITB, menyatakan suara oposisi dalam proyek pembangunan ini. Alasannya jelas, Babakan Siliwangi (mulai sekarang akan kita sebut dengan Baksil) merupakan salah satu dari secuil aset Ruang Terbuka Hijau yang dimiliki kota Bandung. Jika diadakan pembangunan di lahan tersebut, kita tentu perlu mempertanyakan akan ke mana larinya proporsi Ruang Terbuka Hijau untuk kota Bandung? Keberadaan RTH ini tentu sangat penting sebagai paru-paru kota, penghasil oksigen yang kita hirup bersama*, dan penyejuk bagi pemandangan kota yang telah sarat dengan dinding-dinding beton.
Tambah pula, bagi saya RTH adalah penghiburan bagi mata masyarakat urban, yang kiranya sudah lelah melihat bangunan-bangunan tinggi dan asap knalpot kendaraan. Pepohonan itu pun tentunya punya andil sebagai pengendali iklim mikro di lingkungan sekitarnya (perhatikan betapa Bandung bertambah panas seiring banyaknya pohon yang ditebang dalam satu dekade terakhir!). Melalui uraian ini, sudah dapat diketahui betapa RTH memiliki peran yang sangat besar bagi kota dan masyarakatnya. Idealnya, kota Bandung memiliki Ruang Terbuka Hijau seluas tiga puluh persen dari luas total kota keseluruhan.
Sekarang setelah kita sama-sama mengerti bahwa salah satu halaman hijau kota kita sedang dicabik-cabik, pertanyaannya adalah, apa sih yang mau mereka bangun di sana?
Menurut sumber saya, setelah diadakan forum diskusi yang diprakarsai oleh beberapa kalangan yang peduli permasalahan kota**, diketahui bahwa rencana pembangunan kawasan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Restoran Babakan Siliwangi (bangunan restoran yang telah terbakar)
2. Cafe-resto yang mengelilingi Restoran Babakan Siliwangi, kurang lebih
berjumlah 8
buah
3. Balai Pertemuan
4. Teater Terbuka
5. Bioskop (kabar yang diterima adalah Blitz Megaplex II)
There, I said it.
Setelah pemaparan yang sedemikian panjang, maka di sini saya akan mengungkapkan opini saya.
.... (diam sejenak. menarik napas. lalu.....)WATDEFAK?!
Begini. Sebagai masyarakat urban, kita tentunya paham betapa konsumerisme dan hedonisme sangat besar peranannya dalam menggerakkan roda perekonomian kota ini. Bisa dilihat dari jumlah factory outlet dan pusat perbelanjaan yang berkembang di kota Bandung selama beberapa tahun terakhir. Dan perkembangan gaya hidup yang, konon, didasari oleh kejenuhan masyarakat urban akan realita kehidupan perkotaan, mendorong berkembangnya cafe-cafe dan lounge di kota-kota besar, termasuk Bandung kita yang tercinta ini, sebagai tempat hang out dan melarikan diri dari rutinitas. Dari pemahaman akan gejala sosial tersebut, kita bisa memahami betapa area komersil tentunya memberikan kontribusi besar dalam menebalkan kas pemerintah kota.
Siapa tidak tergiur untuk membuka nodus-nodus komersil baru demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari kota yang mayoritas penduduknya tergila-gila akan gaya hidup metropolitan a la New York City, LA, dsb?
Sangat dipahami bahwa orang Indonesia itu sangat suka menampilkan diri. Baik itu dari segi penampilan, maupun keberpunyaan (mobil baru, rumah baru, istri baru, dsb). Tidak heran bahwa mall yang paling muda usia di Bandung (a.k.a Parijs van Java Mall) dapat dinilai sangat berhasil, dengan konsep 'Walk of Fame'-nya*** yang mendukung gairah kawula muda yang hobi mengekspresikan diri dengan fashion ter-up-to-date dan memamerkannya bak peragawati di catwalk.

Berangkat dari keberhasilan PVJ, mungkin itu yang menggerakkan PT. Esa Gemilang Indah (PT.EGI) yang merupakan anak perusahaan Istana Group, untuk membangun suatu pusat komersil di kawasan Baksil. Apalagi potensi Baksil yang sangat strategis karena berada di antara Dago dan Cihampelas, serta hanya sekitar 10 menit (tanpa macet) dari gerbang tol Pasteur.
Saya ulangi. Lokasi Baksil berada di antara DAGO dan CIHAMPELAS. Yang, notabene, keduanya merupakan kawasan yang cukup padat arus lalu lintasnya. Belum lagi kawasan tersebut berada tidak jauh dari CiWalk, yang juga merupakan sentra pergaulan dan komersial bagi penduduk kota Bandung. Ini adalah satu poin penolakan dari saya, karena kita tidak butuh satu lagi alasan untuk bermacet-macet ria di akhir pekan hanya karena segelintir orang butuh pengakuan sebagai anak muda yang tidak buta fashion, atau sebagai eksekutif muda yang trendi karena biasa hotspot-an di cafe paling eksklusif dengan kopi paling mahal.
Kedua. Mengapa satu-satunya hal yang terpikirkan ketika kita ingin melarikan diri dari rutinitas adalah dengan hang out di mall? Mengapa hal tersebut dibudayakan dan dibiasakan? Jika kita memang ingin berkaca ke luar negeri, kita bisa melihat contoh Central Park di New York. Central Park adalah RTH kota New York yang luasnya mencapai 341 hektar. Luas bukan? Dengan adanya taman kota seperti Central Park ini, penduduk kota bisa melepas ketegangan dan stresnya dengan melihat kehijauan dan kerimbunan pohon dan rerumputan, mereka juga bisa jogging, piknik, baca buku, atau malah bikin konser dadakan. Menurut saya, interaksi seperti itu bisa lebih menghidupkan kota dan mengarahkan ke arah masyarakat yang lebih bermartabat. Hey, Bandung Bermartabat, toh?!

Karena bagaimana pun berhasilnya mall atau pusat perbelanjaan, sesungguhnya tanpa disadari tempat-tempat seperti ini menimbulkan 'penyakit-penyakit' skala urban yang tak kasat-mata. Di antaranya jurang antara si miskin dan si kaya menjadi semakin lebar dan peningkatan gaya hidup hedonis dan konsumeris. Mungkin jika anda berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke atas, anda tidak merasakan gejala yang pertama (tapi yang kedua mah, ga disangkal pasti kerasa!). Namun jika anda bukanlah dari kalangan orang berpunya, pasti terasa sekali bahwa mall hanyalah ajang pamer dan unjuk gigi kekayaan orang tua, sementara si miskin hanya bisa gigit jari melihat celana pendek yang dijual dengan harga yang setara dengan biaya makan satu keluarga miskin dalam satu bulan!
Menurut saya, gejala sosial ini sangat tidak sehat. Imbasnya? Banyak. Kriminalitas, slump, hingga meningkatnya jumlah pengemis dan anak jalanan di jalan-jalan. Singkatnya, mall bukanlah solusi yang sehat untuk permasalahan sosial di skala kota. Jadi, KENAPA HARUS MALL?
Tentu saja jawabannya sangat singkat dan sangat mendasar: UANG. Taman kota tidak akan menambah pendapatan pemkot. Taman kota tidak menarik sektor swasta. Jadi, kenapa harus taman kota? (mungkin begitu kata Pak Walikota. Ehem!)
Intinya adalah, saya tidak merasakan urgensi bagi kota ini untuk memiliki pusat komersial baru di kawasan Babakan Siliwangi. Dari segi lingkungan, jelas, rencana pembangunan ini akan memakan space Ruang Terbuka Hijau kota Bandung, yang notabene sudah sangat sedikit ini. Rencana ini sangat tidak sehat bagi kota Bandung.
Dari segi sosial, mall bukanlah solusi yang terbaik untuk memecahkan permasalahan sosial di kota yang sudah sumpek ini. Mengapa tidak dibangun taman kota yang didesain dengan baik, sehingga mampu menciptakan ruang publik yang bisa berdampak positif bagi warga kota? Dan tentunya usulan ini tidak berlaku hanya untuk Baksil saja. Perlu ditingkatkan luas RTH di kota Bandung, dan memperbanyak taman kota adalah salah satu cara melakukannya.
Dari segi apapun juga, saya menentang rencana pembangunan ini. Lain ceritanya jika rencana revitalisasi Baksil diwujudkan dengan desain taman kota, atau taman budaya kota Bandung, atau perbaikan kawasan Baksil dengan cara apapun (selain mall, tentunya!). Ah, sayang sekali tidak ada petinggi pemkot yang membaca blog ini, maupun blog teman2 yang sepemikiran dengan saya. Andaikan kota ini memiliki visi perencanaan yang baik, tentu hal-hal seperti ini tidak akan terjadi.
Hey, Babakan Siliwangi! Nasibmu malang sekali....
keterangan bintang-bintang:
*) karena satu pohon menghasilkan sekitar 130 kg oksigen per-tahun. ini sumbernya!
**) di antaranya Ibu Nia Pontoh-ITB, Bapak Ermaula-IAP, dan
Bapak Ridwan Kamil-BCCF
***) ini sih, istilah saya aja...






