Wednesday, September 17, 2008

Babakan Siliwangi. Akan ke Mana Kini?

Mungkin saya memang 'telat panas' jika baru membahas soal Babakan Siliwangi di blog ini. Bukannya tidak tahu, atau tidak peduli. Satu, blog ini memang agak terbengkalai jika dibanding dengan blog yang menyangkut urusan hati; dua, yah, toh di dunia nyata saya cukup mengikuti perkembangan isu ini kok. Yah, jadi itu pembelaan saya. Hehe.

Oke. So what's the fuss all about?

Jadi begini. Tahu kan Babakan Siliwangi? Yap. Yang itu. Bagi mereka yang belum tahu, well, marak berkembang dewasa ini (tsaah..) bahwa di area tersebut akan dibangun satu pusat perbelanjaan (lagi!). Awalnya proyek ini berjalan tanpa sepengetahuan masyarakat awam, tetapi toh isu ini sudah lama terdengar di kalangan akademisi. Akhirnya perlahan-lahan isu itu mulai muncul ke permukaan dan menggelitik telinga publik. Banyak yang berbicara vokal, tetapi banyak juga yang tidak peduli.


Pihak akademis, dalam konteks ini saya berbicara atas nama teman-teman dari ITB, menyatakan suara oposisi dalam proyek pembangunan ini. Alasannya jelas, Babakan Siliwangi (mulai sekarang akan kita sebut dengan Baksil) merupakan salah satu dari secuil aset Ruang Terbuka Hijau yang dimiliki kota Bandung. Jika diadakan pembangunan di lahan tersebut, kita tentu perlu mempertanyakan akan ke mana larinya proporsi Ruang Terbuka Hijau untuk kota Bandung? Keberadaan RTH ini tentu sangat penting sebagai paru-paru kota, penghasil oksigen yang kita hirup bersama*, dan penyejuk bagi pemandangan kota yang telah sarat dengan dinding-dinding beton.

Tambah pula, bagi saya RTH adalah penghiburan bagi mata masyarakat urban, yang kiranya sudah lelah melihat bangunan-bangunan tinggi dan asap knalpot kendaraan. Pepohonan itu pun tentunya punya andil sebagai pengendali iklim mikro di lingkungan sekitarnya (perhatikan betapa Bandung bertambah panas seiring banyaknya pohon yang ditebang dalam satu dekade terakhir!). Melalui uraian ini, sudah dapat diketahui betapa RTH memiliki peran yang sangat besar bagi kota dan masyarakatnya. Idealnya, kota Bandung memiliki Ruang Terbuka Hijau seluas tiga puluh persen dari luas total kota keseluruhan.

Sekarang setelah kita sama-sama mengerti bahwa salah satu halaman hijau kota kita sedang dicabik-cabik, pertanyaannya adalah, apa sih yang mau mereka bangun di sana?

Menurut sumber saya, setelah diadakan forum diskusi yang diprakarsai oleh beberapa kalangan yang peduli permasalahan kota**, diketahui bahwa rencana pembangunan kawasan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Restoran Babakan Siliwangi (bangunan restoran yang telah terbakar)
2. Cafe-resto yang mengelilingi Restoran Babakan Siliwangi, kurang lebih
berjumlah 8
buah
3. Balai Pertemuan
4. Teater Terbuka
5. Bioskop (kabar yang diterima adalah Blitz Megaplex II)

There, I said it.

Setelah pemaparan yang sedemikian panjang, maka di sini saya akan mengungkapkan opini saya.

.... (diam sejenak. menarik napas. lalu.....)WATDEFAK?!

Begini. Sebagai masyarakat urban, kita tentunya paham betapa konsumerisme dan hedonisme sangat besar peranannya dalam menggerakkan roda perekonomian kota ini. Bisa dilihat dari jumlah factory outlet dan pusat perbelanjaan yang berkembang di kota Bandung selama beberapa tahun terakhir. Dan perkembangan gaya hidup yang, konon, didasari oleh kejenuhan masyarakat urban akan realita kehidupan perkotaan, mendorong berkembangnya cafe-cafe dan lounge di kota-kota besar, termasuk Bandung kita yang tercinta ini, sebagai tempat hang out dan melarikan diri dari rutinitas. Dari pemahaman akan gejala sosial tersebut, kita bisa memahami betapa area komersil tentunya memberikan kontribusi besar dalam menebalkan kas pemerintah kota.

Siapa tidak tergiur untuk membuka nodus-nodus komersil baru demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari kota yang mayoritas penduduknya tergila-gila akan gaya hidup metropolitan a la New York City, LA, dsb?

Sangat dipahami bahwa orang Indonesia itu sangat suka menampilkan diri. Baik itu dari segi penampilan, maupun keberpunyaan (mobil baru, rumah baru, istri baru, dsb). Tidak heran bahwa mall yang paling muda usia di Bandung (a.k.a Parijs van Java Mall) dapat dinilai sangat berhasil, dengan konsep 'Walk of Fame'-nya*** yang mendukung gairah kawula muda yang hobi mengekspresikan diri dengan fashion ter-up-to-date dan memamerkannya bak peragawati di catwalk.


Berangkat dari keberhasilan PVJ, mungkin itu yang menggerakkan PT. Esa Gemilang Indah (PT.EGI) yang merupakan anak perusahaan Istana Group, untuk membangun suatu pusat komersil di kawasan Baksil. Apalagi potensi Baksil yang sangat strategis karena berada di antara Dago dan Cihampelas, serta hanya sekitar 10 menit (tanpa macet) dari gerbang tol Pasteur.

Saya ulangi. Lokasi Baksil berada di antara DAGO dan CIHAMPELAS. Yang, notabene, keduanya merupakan kawasan yang cukup padat arus lalu lintasnya. Belum lagi kawasan tersebut berada tidak jauh dari CiWalk, yang juga merupakan sentra pergaulan dan komersial bagi penduduk kota Bandung. Ini adalah satu poin penolakan dari saya, karena kita tidak butuh satu lagi alasan untuk bermacet-macet ria di akhir pekan hanya karena segelintir orang butuh pengakuan sebagai anak muda yang tidak buta fashion, atau sebagai eksekutif muda yang trendi karena biasa hotspot-an di cafe paling eksklusif dengan kopi paling mahal.

Kedua. Mengapa satu-satunya hal yang terpikirkan ketika kita ingin melarikan diri dari rutinitas adalah dengan hang out di mall? Mengapa hal tersebut dibudayakan dan dibiasakan? Jika kita memang ingin berkaca ke luar negeri, kita bisa melihat contoh Central Park di New York. Central Park adalah RTH kota New York yang luasnya mencapai 341 hektar. Luas bukan? Dengan adanya taman kota seperti Central Park ini, penduduk kota bisa melepas ketegangan dan stresnya dengan melihat kehijauan dan kerimbunan pohon dan rerumputan, mereka juga bisa jogging, piknik, baca buku, atau malah bikin konser dadakan. Menurut saya, interaksi seperti itu bisa lebih menghidupkan kota dan mengarahkan ke arah masyarakat yang lebih bermartabat. Hey, Bandung Bermartabat, toh?!


Karena bagaimana pun berhasilnya mall atau pusat perbelanjaan, sesungguhnya tanpa disadari tempat-tempat seperti ini menimbulkan 'penyakit-penyakit' skala urban yang tak kasat-mata. Di antaranya jurang antara si miskin dan si kaya menjadi semakin lebar dan peningkatan gaya hidup hedonis dan konsumeris. Mungkin jika anda berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke atas, anda tidak merasakan gejala yang pertama (tapi yang kedua mah, ga disangkal pasti kerasa!). Namun jika anda bukanlah dari kalangan orang berpunya, pasti terasa sekali bahwa mall hanyalah ajang pamer dan unjuk gigi kekayaan orang tua, sementara si miskin hanya bisa gigit jari melihat celana pendek yang dijual dengan harga yang setara dengan biaya makan satu keluarga miskin dalam satu bulan!

Menurut saya, gejala sosial ini sangat tidak sehat. Imbasnya? Banyak. Kriminalitas, slump, hingga meningkatnya jumlah pengemis dan anak jalanan di jalan-jalan. Singkatnya, mall bukanlah solusi yang sehat untuk permasalahan sosial di skala kota. Jadi, KENAPA HARUS MALL?

Tentu saja jawabannya sangat singkat dan sangat mendasar: UANG. Taman kota tidak akan menambah pendapatan pemkot. Taman kota tidak menarik sektor swasta. Jadi, kenapa harus taman kota? (mungkin begitu kata Pak Walikota. Ehem!)

Intinya adalah, saya tidak merasakan urgensi bagi kota ini untuk memiliki pusat komersial baru di kawasan Babakan Siliwangi. Dari segi lingkungan, jelas, rencana pembangunan ini akan memakan space Ruang Terbuka Hijau kota Bandung, yang notabene sudah sangat sedikit ini. Rencana ini sangat tidak sehat bagi kota Bandung.

Dari segi sosial, mall bukanlah solusi yang terbaik untuk memecahkan permasalahan sosial di kota yang sudah sumpek ini. Mengapa tidak dibangun taman kota yang didesain dengan baik, sehingga mampu menciptakan ruang publik yang bisa berdampak positif bagi warga kota? Dan tentunya usulan ini tidak berlaku hanya untuk Baksil saja. Perlu ditingkatkan luas RTH di kota Bandung, dan memperbanyak taman kota adalah salah satu cara melakukannya.

Dari segi apapun juga, saya menentang rencana pembangunan ini. Lain ceritanya jika rencana revitalisasi Baksil diwujudkan dengan desain taman kota, atau taman budaya kota Bandung, atau perbaikan kawasan Baksil dengan cara apapun (selain mall, tentunya!). Ah, sayang sekali tidak ada petinggi pemkot yang membaca blog ini, maupun blog teman2 yang sepemikiran dengan saya. Andaikan kota ini memiliki visi perencanaan yang baik, tentu hal-hal seperti ini tidak akan terjadi.

Hey, Babakan Siliwangi! Nasibmu malang sekali....


***


keterangan bintang-bintang:
*) karena satu pohon menghasilkan sekitar 130 kg oksigen per-tahun. ini sumbernya!
**) di antaranya Ibu Nia Pontoh-ITB, Bapak Ermaula-IAP, dan
Bapak Ridwan Kamil-BCCF
***) ini sih, istilah saya aja...

Sunday, July 20, 2008

Re-Inventing Bandung: Architectural Intervension of Lost Urban Spaces in Bandung

Acara ini merupakan salah satu bentuk konkrit dari insan arsitektur di Bandung untuk mempersembahkan potensinya dalam merayakan sebuah kota kreatif, tentunya dalam hal arsitektur.

Adapun acara "RE-INVENTING BANDUNG: Ideas for New Bandung" ini bertujuan untuk menghasilkan gagasan-gagasan berupa intervensi arsitektural yang mampu memperbaiki kondisi ruang-ruang hilang di kota Bandung dan sebagai upaya menghasilkan ruang-ruang kota yang lebih bermakna.

Rangkaian acara:
PRESENTASI PESERTA
Waktu pelaksanaan : 23 Agustus 2008
Tempat : Galeri Botol, Kolong Jembatan Pasupati

PAMERAN KARYA
Waktu pelaksanaan : 23-30 Agustus 2008
Tempat : Galeri Botol, Kolong Jembatan Pasupati

TALKSHOW
Waktu Pelaksanaan : 29 Agustus
Tempat : Auditorium CC Timur ITB

Acara ini diikuti oleh 26 biro arsitek terkemuka dari 6 kota, yaitu Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Bali, Surabaya dan Malang, serta mahasiswa arsitektur dari 8 perguruan tinggi di Bandung.

Monday, May 26, 2008

In Focus: Fumihiko Maki


-Winner of The 1993 Pritzker Prize-

Quotes :

  • “Something about cities and their role in inspiring not only architecture but life and culture in general.”

  • “Charged with giving form - with perceiving and contributing order - agglomerates of buildings, highways, and green spaces in which men have increasingly come to work and live , the urban designer stands between technology and human need and seeks to make the first a servant, for the second must be paramount in a civilized world.”

  • "Forms and spaces in the world of nature, long dormant in our subconscious, still have the power to arouse our emotions (...) the joys and fears of children are universal and transcendent" .

  • "The ultimate aim of architecture is to create spaces to serve society, and in order to achieve this, the architect must understand human activities from the standpoints of history, ecology, and changing trends. He must also know the relationship existing between human activities and architectural spaces and processes by means of which these relationships develop."

  • "The problem of modernity is not creating forms," says Maki, "but rather, creating an overall image of life, not necessarily dominated by the concept of modernity."

Biography :

Fumihiko Maki dilahirkan di Tokyo pada tanggal 16 September 1928. Ia adalah salah satu arsitek besar Jepang di era modernisme selain Kenzo Tange. Lulus dari Universitas Tokyo di Jepang, ia meneruskan studinya di Cranbrook Academy of Art di Michigan, di mana pengaruh Eliel Saarinen sangat kental di kurikulumnya. Setelah itu beliau meneruskan pendidikannya di Graduate School of Design Harvard University dan mendapat gelar master di sana. Beliau pernah bekerja pada biro arsitek ternama Skidmore, Owings and Merrill di New York dan Sert Jackson and Associates di Cambridge, sebelum akhirnya kembali ke Jepang dan membuka sendiri biro arsitekturnya, Maki and Associates di Tokyo.

Desain Maki sendiri banyak mendapat pengaruh modernisme, terlihat dari struktur-struktur yang simple, dengan permainan material logam, beton, dan kaca; layaknya arsitek-arsitek Modernism pada masa tersebut. Ia mengaplikasikan teknologi sebagai manifestasi dari desain, ia sering menggunakan system konstruksi yang modular pada desain-desainnya. Selain itu ia juga mengkombinasikan pendekatan rasionalnya pada konstruksi dan detail-detail bangunan yang terpadu dengan baik.

Menurutnya desain yang baik ialah desain yang mampu mengakomodasi kebutuhan interaksi manusia sebagai penggunanya, juga mencerminkan latar belakang kultur dan historis pada eranya.

Sebuah website menyebutkan, bahwa kepiawaian Maki meramu langgamnya sendiri, yang merupakan perpaduan modernitas dengan impuls-impuls dari alam dengan keunikan arsitektur dan budaya Jepang menghasilkan bentukan-bentukan arsitektur yang indah, tidak hanya secara kasat mata sedap dipandang, namun juga indah dan damai jika dinikmati dengan hati. Ia sering menyebut karya rancangannya sebagai “places of refuge and prospect”, atau tempat pelarian dan pengharapan, dengan referensi permainan ‘petak umpet’ dari masa kanak-kanaknya; ia ingin karyanya dapat dihayati dan dikhidmati sebaik karyanya dapat dilihat dan digunakan. (“Forms and spaces in the world of nature, long dormant in our subconscious, still have the power to arouse our emotions.”)

Untuk mencapai “places of refuge and prospect” ini, Maki menciptakan konsep ‘oku’, yaitu ‘kedalaman fenomenal’ yang dengan teknik overlapping layers dapat menciptakan ruang yang tersembunyi, namun tidak sepenuhnya tertutupi.

Designs :

1. Hillside Terrace Apartment Complex, Tokyo, 1969-92









2. Wacoal Media Center (Spiral Building), Minato Ward, Tokyo, 1985








3.




3. Floating Pavilion, Groningen, Belanda







4. YKK Guest House, Kurobe, Japan




















Vienz, May 2008. Dari berbagai sumber.

***


(Bahasanya tugas banget yak? Hihihi.)

Wednesday, May 21, 2008

Jakarta: Arsitektur Kota dan Eksklusivitas


Sekarang ini kalau menyalakan tv di hari libur, sering sekali melihat wajah Mbak Feni Rose dan si mbak-mbak marketing developer berwajah oriental itu sedang berjualan produk propertinya di Jakarta dan sekitarnya. Produknya macam-macam, dari mulai 'hunian eksklusif', 'apartemen eksklusif', 'sentra bisnis eksklusif', dan hal-hal eksklusif lainnya. Jargonnya selalu sama: eksklusif. Saya sampai heran, sejauh mana (atau sesempit mana?) mereka menarik batas eksklusivitas tersebut. Dunia properti bersentuhan erat dengan arsitektur, tetapi apakah arsitektur harus menjadi produk yang 'eksklusif'?

Padahal seperti yang Shakespeare bilang, 'What is the city, but the people?' (Coriolanus). Ketika mereka mereduksi pencapaian arsitektur pada eksklusivitas (baca: untuk kalangan tertentu), maka kota tersebut telah menjadi kota yang 'eksklusif'. Untuk kalangan terbatas. Jakarta, pada konteks ini, terlarang untuk orang miskin.

Padahal sejatinya arsitektur merupakan cerminan dari wajah kota. Wajah kota adalah seluruh komponen yang berinteraksi di dalamnya; orang kaya, orang miskin, pejabat pemerintahan, pemulung, guru, bankir, joki 3 in 1, sopir bus, anak kecil, orang dewasa, dll. Arsitektur kota seharusnya menjadi solusi atas permasalahan-permasalahan; bukannya memperkeruh permasalahan atau menjadi inti dari permasalahan itu sendiri.

Sekarang ini Jakarta bukanlah kota yang ramah bagi penghuninya. Arsitektur yang berjajar angkuh di dalamnya tidak memiliki andil banyak dalam menyelesaikan permasalahan yang dialami penduduk kota setiap harinya. Mal-mal yang banyak tersebar di kota Jakarta hanyalah memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin, mengakomodasi 'the haves' tetapi secara tidak sadar mengintimidasi 'the have-nos' dan mendorong budaya hedonisme dan konsumerisme. Fasilitas-fasilitas umum seperti taman kota, pedestrian, terminal dan stasiun terlihat kumuh; tidak ada upaya pencerdasan untuk rakyat dari pemerintah kota. Belum lagi acaranya Mbak Feni Rose itu. Kita yang menontonnya jadi berpikir, seolah-olah semua orang Jakarta itu kaya-kaya dan mampu beli apartemen yang punya kolam renang di atap (hahaha, masuk angin kali ya?).

Singkatnya, Pemerintah Kota Jakarta punya pe-er yang sangat banyak. Permasalahan-permasalahan yang sejatinya bisa diselesaikan dengan arsitektur kota yang baik. Sayangnya, sepertinya belum ada itikad baik dari pemkot maupun pemprov DKI Jakarta; sementara dari pihak sang arsitek sendiri saat ini masih banyak yang terjepit di antara idealisme dan tuntutan dari klien. Akibatnya ya itu, arsitektur seolah merupakan disiplin ilmu yang eksklusif, hanya untuk mereka yang mampu bayar; padahal sebenarnya arsitektur adalah ilmu yang 'me-manusiakan manusia'. Mungkin arsitektur kota yang baik di Indonesia masih menjadi sebatas impian hingga saat ini.

Kalau kembali lagi ke Feni Rose dan Mbak berwajah oriental itu sih, yaa.. ngga bisa disalahin juga. Namanya juga jualan ya? Hehehehe...

***

photo by JW Yeung on flickr.com

Sunday, April 27, 2008

Gedung Tertinggi di Dunia, Perlukah?

Dari milist IAI:

Gedung Tertinggi di Indonesia Dibangun

JAKARTA - Indonesia akan masuk daftar negara pemilik bangunan pencakar
langit tertinggi di dunia. Hal itu menyusul rencana raksasa properti
Lippo Group membangun The St Moritz, proyek hunian terintegrasi di
areal seluas 135 hektare di kawasan Puri Indah, Jakarta Barat. Ikon di
kompleks prestisius itu adalah menara 56 lantai yang diklaim akan
menjadi bangunan tertinggi di Indonesia.

"The St Moritz akan jadi ikon baru di Indonesia karena mencakup 17
gedung pencakar langit yang salah satunya mempunyai 65 lantai," ujar
Direktur Lippo Karawaci Michael Riady saat jumpa pers The St Moritz
Penthouse and Residences kemarin (3/4).

Bangunan tertinggi di Indonesia saat ini adalah Peak Tower yang
memiliki 55 lantai, disusul gedung BNI 46 yang juga memiliki 55
lantai. Di negara tetangga, gedung Petronas Malaysia lebih tinggi lagi
dengan 88 lantai. Bangunan tertinggi di dunia akan dicapai Burj Dubai
yang menyelesaikan konstruksi setinggi 850 meter akhir tahun ini.

Michael menegaskan, bangunan tertinggi itu digunakan untuk ruang
perkantoran khusus bagi perusahaan-perusaha an papan atas yang masuk
jajaran Top 500 Fortunes Companies. "Karena ini gedungnya kelas atas,
jadi pemakainya harus kelas atas juga dong," ujarnya.

Bangunan tertinggi dan terbesar di Indonesia itu diperkirakan menyedot
investasi hingga USD 1,2 miliar (Rp 11 triliun). Kawasan terintegrasi
dengan konsep vertikal tersebut dibangun dengan menggabungkan berbagai
kelengkapan dan fasilitas umum sebanyak yang berstandar internasional
dengan konsep 11-in-1. "Beberapa konsultan berkelas internasional akan
dilibatkan," terangnya.

PT Lippo Karawaci adalah anak bisnis Grup Lippo, milik taipan Mochtar
Riady, yang bergerak di bisnis properti dengan nilai aset USD 1,1
miliar dan pendapatan USD 227 miliar pada 2007. Kota mandiri itu akan
dibangun di atas tanah seluas 150 kali lapangan sepak bola. "Bukan
hanya itu. Di dalamnya nanti juga berdiri kantor penjualan (sales
building) properti terbesar se-Asia dengan luas 14 ribu meter persegi
setinggi tujuh lantai," tandasnya.

Michael yakin, The St Moritz tidak akan dapat disejajarkan dengan
proyek properti lain di Indonesia. Perencanaan wilayahnya dibuat per
blok, menyerupai kota kosmopolitan lain di dunia seperti London, New
York. Mengenai dana Rp 11 triliun, Michael menyebut seluruhnya dari
dana internal perseroan. "Dari dua pembiayaan, yaitu kas perusahaan
dan pre-sales (penjualan tahap awal) sudah bisa menutupi investasi,"
terangnya.

Menurut dia, pre-sales proyek-proyek yang dibangun Lippo Karawavi bisa
menjadi andalan pembiayaan. Sebab, masyarakat menilai proyek buatan
Lippo bisa dipercaya dan selalu menjadi aset investasi yang
menguntungkan. Peletakan batu pertama megaproyek itu dilakukan di
kuartal ketiga tahun ini. "Sekaligus kita lakukan pre-launching untuk
menjual unit-unit apartemennya, " tambahnya.

Dalam tahap awal akan dibangun tiga tower apartemen, yaitu The St
Moritz, The St Tropez, dan The St Monaco dalam 2,5 tahun. Ketiga
apartemen tersebut dibangun dengan eksklusif dan private. The St
Moritz hanya berisi empat unit apartemen per lantai. Kemudian The St
Tropez akan berisi enam unit per lantai, dan The St Monaco berisi
delapan unit per lantai.

Michael menyebutkan, The St Moritz akan dihuni sekitar 20 ribu orang,
dan 13 ribu orang akan tinggal di apartemen. Di dalamnya akan berdiri
gedung-gedung lain, seperti pusat perbelanjaan seluas 45 hektare,
hotel berbintang lima dengan 500 kamar eksklusif yang akan dikelola
Aryaduta, dan Convention Centre seluas enam hektare. "Selain itu, juga
ada Siloam Hospital, Cinema 21, fasilitas fitnes, dan landasan
helikopter (helipad)," jelasnya. (wir)

Source:
http://www.indopos. co.id/index. php?act=detail& id=10264


***

Membaca artikel di atas, saya hanya bisa tertawa sinis. Miris. Saya hanya mempertanyakan urgensi pemerintah kita, apakah mereka tahu arah pembangunan negeri ini sebenarnya mau dibawa ke mana?

Okay, di satu sisi kita perlu yang namanya 'kebanggaan'. Mungkin ada baiknya juga jika ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini, karena 'kebanggaan' bisa mengembalikan semangat nasionalisme yang sudah lama luntur dari penduduk negeri ini. Jika kita memiliki salah satu gedung tertinggi di dunia, mungkin kita bisa berbangga-bangga pada bangsa lain, "Eh, negara gw juga bisa loh, bikin gedung pencakar langit! Emang lo doang?"

Toh, pride and architecture memang bisa dibilang telah menjadi satu paket. Atau lebih tepatnya,' pride follows architecture'. Negeri ini pernah 'memanfaatkan' arsitektur demi memperoleh kebanggaan dan posisi di mata dunia internasional. Saya ambil contoh ketika Bung Karno memerintahkan pembangunan Masjid Istiqlal, Gelora Bung Karno di Senayan, Monas, serta Hotel Indonesia; hal itu dilakukan guna mencapai ambisi beliau saat itu, yakni mensejajarkan Indonesia dengan negara-negara lain di dunia.

Did it work? Yes. Saya pernah dengar satu cerita bahwa suatu saat sebuah klub sepakbola internasional pernah diundang untuk bermain dalam pertandingan persahabatan dengan timnas Indonesia, pelatih mereka begitu kagum dengan 'kebesaran' Gelora Bung Karno - yang pada masa itu memang terhitung mewah untuk ukuran negara berkembang di Asia.

Hal yang sama berlaku untuk museum Guggenheim di Bilbao, Spanyol. Dulunya Bilbao adalah kota kecil di Eropa yang bergantung pada industri baja. Sektor pariwisata nyaris nol, sampai kemudian dibangunlah Museum Guggenheim karya Frank Gehry yang monumental. Kini, banyak orang berkunjung ke Bilbao karena ingin melihat karya Frank Gehry tersebut. Bangunan ini juga merupakan kebanggaan tersendiri bagi warga Bilbao. Ini merupakan contoh lain bahwa 'pride follows architecture'.

Kembali lagi ke gedung pencakar langit tertinggi. Saya tidak mempermasalahkan 'tertinggi di dunia' atau 'kebanggaan Indonesia'-nya. Tapi saya mempertanyakan urgensinya. Ketika pemerintah belum bisa mengatasi kepadatan penduduk di Jakarta, ketika public transport belum bisa menyelesaikan kemacetan lalu lintas ibukota, ketika jurang kemiskinan dan kekayaan masih sedemikian lebarnya di negeri ini, perlukah kita 'Gedung Pencakar Langit Tertinggi di Dunia'?

Pantaskah?

Apakah tidak sebaiknya pemerintah membangun rumah susun ekonomis bagi masyarakat kelas bawah? Bukankah lebih baik memperbanyak public space dan ruang terbuka hijau agar lingkungan kota terasa lebih 'manusiawi'? Apakah tidak sebaiknya pemerintah membangun perpustakaan-perpustakaan sebagai upaya pencerdasan dan penghiburan bagi masyarakat yang sedang kesusahan? Alangkah baiknya jika pemerintah mendahulukan perbaikan bangunan-bangunan sekolah yang ambruk dan makin memprihatinkan dari hari ke hari, bukan?

Memang, arsitek punya andil besar dalam arah pembangunan negara ini. Tapi bagaimana lagi jika dari pemerintahnya sendiri tidak punya kemauan untuk perbaikan ke arah yang lebih baik?

Architecture and Vienz

Oh-my-God, another blog?

Yea. I know I have two blogs already. But you know what? None of them are talking about the subject that I'm learning at college: Architecture. The first one is talking about me-myself-and my feelings. The second one is where I write everything -mainly- in English. And then all of the sudden I realized that I didn't have a space where I can write about architecture. I mean, I don't want to ruin the 'identity' of both of my blogs, especially the first one, which I have built along with my writings there over the past year. And although I can write anything about architecture in my second blog, which consequently I have to write in English -which is OKAY! But I still needed one specific space to write in this subject. So here it is: Q-Arch!

Why Q.Arch?

Well, it's pretty much how I want my professional Architecture Studio be called in the future. It actually comes from my initial: Oktavina Qurrota Ayun - O.Q.A

Q.A refers to the 2 last letters in my initial. From there, I want a simple name for an architecture studio, and voila! Q.Arch it is...

You can read articles and opinions about today's architectural issues here, and may be I'll put some of my assignment projects at school. So, let's enjoy this blog and enjoy architecture!